
CIAMIS, RubrikJabar.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis mengungkap fakta menarik melalui penelitian mendalam. Selain itu, sejumlah Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis membuktikan peran nyata dalam menjaga hutan, sumber air, serta melindungi permukiman.
Selanjutnya, Kepala Disbudpora Ciamis menjelaskan bahwa riset tersebut memfokuskan perhatian pada kosmologi ekosistem di kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga ini mengarahkan tim peneliti guna melihat hubungan erat antara aturan adat dan mitigasi bencana ekologis.
Hutan Larangan di Kampung Adat Kuta
Kawasan Situs Kampung Adat Kuta memegang sorotan utama karena keberadaan hutan larangan berfungsi sebagai penyangga alami bagi warga.
Masyarakat setempat secara konsisten memegang teguh aturan adat melarang keras penebangan pohon sembarangan. Karena hal tersebut, Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis secara aktif membentuk kesadaran kolektif guna merawat kelestarian ekosistem hutan secara berkelanjutan.
Situs Nagarapageh Penyangga Sumber Air
Temuan serupa muncul di Situs Nagarapageh Raden Undakan Kalang Sari yang terletak di Kecamatan Panawangan. Kawasan hijau di atas permukiman warga ini bekerja optimal menahan erosi tanah sekaligus menjaga debit mata air.
Berdasarkan data lapangan, Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis memastikan pasokan air bersih mengalir deras tanpa henti. Maka dari itu, perlindungan kawasan hijau di sekitar situs menjadi komitmen mutlak yang warga patuhi.
Aturan Pelestarian di Situs Geger Emas
Perjalanan tim berlanjut ke Situs Geger Emas di Ciomas yang menyandang status cagar budaya sejak tahun 2022. Di lokasi ini, aturan adat melarang keras penyadapan pohon aren serta pemanfaatan kayu dari pohon roboh.
Masyarakat membiarkan pohon tumbang tersebut lapuk secara alami sebagai bagian dari daur ekologis hutan. Praktik bijak ini menunjukkan bahwa Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis merawat keanekaragaman hayati tanpa merusak tatanan alam.
Kajian Lanjutan di Situs Pangrumasan
Tim riset meninjau Situs Pangrumasan di Kecamatan Banjarsari sebagai objek kajian penetapan resmi pada tahun 2027. Di samping itu, pemetaan juga mencakup kawasan Gunung Sawal, Karangkamal, hingga Situs Balaniksa di Bojongmengger.
Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan kerentanan geografis di sekitar sungai dan lembah. Melalui penguatan kajian ilmiah bersama BRIN, pengelolaan Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis meminimalisasi risiko bencana alam secara komprehensif.
Fungsi Ekologis Warisan Leluhur
Temuan riset menegaskan bahwa warisan leluhur memiliki fungsi ekologis jauh lebih luas daripada sekadar peninggalan masa lalu. Hutan subur di atas permukiman bertindak sebagai pemasok oksigen alami sekaligus benteng pertahanan ekologis.
Keberhasilan konservasi ini lahir dari kepatuhan warga terhadap tradisi tanpa bergantung pada regulasi formal. Ketika sebuah Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis masyarakat rawat dengan baik, maka kesejahteraan sekitar meningkat secara positif.
Menjaga kelestarian warisan budaya sama artinya dengan menyelamatkan masa depan bumi. Melalui sinergi riset modern dan kearifan masa lampau, Situs Keramat dan Kearifan Lokal Ciamis membuktikan bahwa tradisi lokal menjadi kunci utama ketahanan ekologis berkelanjutan.





